Minggu, 23 Januari 2011

karakteristik dan perbedaan individu

PERBEDAAN dan KARAKTERISTIK INDIVIDU

BIOLOGI 3C
Nama kelompok 1 :
 Bekti indras keni (200941500179)
 HanNY maspupah (200941500184)
 Yelvi okta rina (200941500177)
 NaFiYatin nuzula (200941500178)
 Reni oktaviani (200941500189)
 NadiA miratun (200941500187)

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
Jalan Nangka no.58 jagakarsa-jaksel






KATA PENGANTAR



Puji syukur kehadirant Tuhan Yang Maha Esa yang dengan berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Karakteristik dan Perbedaan Individu” tepat pada waktunya.

Makalah ini kami buat sesederhana mungkin, dengan bahasa dan pola pengkajian yang sederhana pula, agar anda mudah memahami dan mengerti isi dari makalah yang kami buat ini. Makalah ini membahas tentang apa saja karakteristik dan perbedaan individu, karena dalam menjalankan tugas sebagai pengajar, kita harus memahami apa saja perbedaan yang ada pada setiap individu siswa-siswinya.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun, sehingga kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi. Akhirnya, kami berharap kiranya makalah ini dapat bermanfaat.





Jakarta, 03 Oktober 2010




TIM PENYUSUN
















DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab 1 Pendahuluan 4
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Perumusan Masalah 5
Bab 2 Pembahasan 6
2.1. Tujuan Khusus Pengajaran 6
2.2. Individu dan Karakteristiknya 6
2.2.1. Pengertian Individu 6
2.2.2. Karakteristik Individu 8
2.2.3. Aspek Perkembangan Individu 16
2.2.4. Memahami Perbedaan Individual 20
2.2.5. Perlunya Pemahaman Pekembangan
Peserta Didik 24
Bab 3 Penutup 26
3.1. Kesimpulan 26
3.2. Saran 26
Daftar Pustaka 27
















BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk yang berbentuk atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau educandum. Berba-gai pandangan tersebut membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kom-pleks. Manusia sebagai pribadi yang utuh dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan akan lebih ditekankan hakekat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani dan sebagai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat.
Manusia merupakan kesatuan Psikofisis dan Psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Untuk memberi gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna Perkembangan, sedangkan pertumbu-han digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek atau rohani dan aspek sosial.
Setiap individu memiliki cirri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredi-tas) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor bilogis cenderung lebih bersifat tetap, se-dangkan faktor karakteristik yang berkaitan dengan sosial Psikologis lebih kepada faktor lingkungan.
Sehingga pada setiap individu mampu memahami Perbedaan Individual antara satu dengan yang lain agar dapat memberikan stimulasi dan mengarahkan pembentukan perilaku dari masing-masing individu dengan mengetahui cirri khu-sus, agar dapat mengetahui Perkembangan dan Karakteristik setiap individu den-gan tepat sebagai seorang guru.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah penelitian yang akan dirumuskan adalah sebagai berikut :

1. Memahami karakteristik setiap individu.
2. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap kesiapan dan prediksi keberhasilan anak dalam mengikuti kegiatan pengajaran.
3. Kondisi-kondisi apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan pengajaran.
4. Perlunya pemahaman perkembangan peserta didik dalam menjalankan tugas dan fungsi keguruan.



















BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Tujuan Khusus Pengajaran

• Memahami prinsip tentang karakteristik dan perbedaan individu
• Memahami karakteristik siswa untuk rencana kegiatan mengajar
• Mengenal aspek-aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu


2.2 Individu dan Karakteristiknya

Pokok isi uraian yang disajikan pada bab ini adalah karakteristik individu secara umum. Untuk memahami karakteristik individu tersebut, terlebih dahulu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan individu itu sendiri.

1. Pengertian Individu

Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut. Seba-gaimana diketahui, manusia adalah makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk yang berbentuk atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau edu-candum, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terha-dap manusia tersebut. Berbagai pandangan tersebut membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karak-ter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu an-tara segi (i) individu dan social, (ii) jasmani dan rohani, serta (iii) dunia dan akhi-rat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan an-tara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesame manusia, manusia dengan alam sekitar atau lingkungannya, manusia dengan Tuhan.
Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik ha-ruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakekat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani dan seba-gai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat. Sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut merupakan hal yang se-cara mutlak disandang oleh manusia sehingga setiap manusia pada dasarnya seba-gai pribadi atau individu yang utuh. Individu berarti tidak dapat dibagi (undi-vided) dan tidak dapat dipisahkan keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-cirinya yang khusus tersebut. Menurut kamus Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya yang akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Oleh karena itu, anak dibantu oleh guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
Bukti-bukti telah jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan per-lengkapan yan sudah sempurna. Dengan sendirinya, pola-pola berjalan, berbicara, merasakan, berpikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barangkali, tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang dikembangkan anak dilingkun-gan tempat ia tumbuh dan berkembang.
Sejak lahir, bahkan sejak masih di dalam kandungan ibunya, manusia me-rupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut merupakan sifat ko-drat manusia yang harus mendapat perhatian secara saksama. Untuk memberi gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna Perkembangan, se-dangkan pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuanti-tatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk pe-rubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek atau rohani dan aspek sosial.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutu-han-kebutuhan. Dari kehidupan awal ketika masih bayi, hanya mementingkan ke-butuhan jasmaninya saja, sampai perkembangan yang semakin luas, tidak hanya kebutuhan fisik tapi juga nonfisik. Dengan kata lain, pertumbuhan fisik senantiasa diikuti perkembangan aspek kejiwaan atau psikisnya.


2. Karakteristik Individu

Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (hereditas) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang me-nyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu, terdapat keyakinan serta kepribadian terbawa pembawaan (heredity) dan lingkungan. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan ling-kungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari bahwa apa yang dirasakan oleh seorang anak , remaja atau dewasa merupakan hasil dari per-paduan antara apa yang ada diantara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Nature dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menje-laskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor bilogis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan faktor karakteristik yang berkaitan dengan sosial Psikologis lebih kepada faktor lingkungan.
Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru tersebut, secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah maupun terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biplogis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang di bawa sejak lahir. Hal tersebut akhirnya membentuk suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujud-kan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.

Kepribadian Dapat Juga Dilihat dari Golongan darah

Golongan darah bisa mencerminkan kepribadian seseorang.
a. Golongan darah A
Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius,
sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Orang yang bergolongan da-rah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu.Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Me-reka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsis-ten. Mereka berusaha membuat diri
mereka sewajar dan ideal mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan
jauh dari orang-orang. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan ka-rena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber’temperamen’ sama.
b. Golongan darah B
Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik
terhadap segalanya. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak
kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerja-kannya.Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung me-lalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain.
Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara
berbarengan. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan
antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan
yang ada didalam diri mereka. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.
c. Golongan darah O

Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam
menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan
suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut. Figur mereka ter-lihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan te-nang.Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat men-gadu).Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mem-punyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal. Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru. Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya
tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena
kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolon-gan darah O ini di cintai.

d. Golongan darah AB
Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif,
lembut. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu
menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan
orang-orang yang dekat dengannya. Mereka jadi cenderung kelihatan
mempunyai dua kepribadian.Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Dalam dunia psikologi, dikenal yg namanya 4 tipe kepribadian: Sanguinis, Melankolis, Koleris & Plegmatis, atau ada juga yg langsung mengkategorikannya sesuai dgn sifat dominan masing2 tipe, yaitu: Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat & Plegmatis Damai.

SANGUINIS yang Populer.
KEKUATAN:
• Suka bicara
• Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
• Antusias dan ekspresif
• Ceria dan penuh rasa ingin tahu
• Hidup di masa sekarang
• Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
• Berhati tulus dan kekanak-kanakan
• Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
• Umumnya hebat di permukaan
• Mudah berteman dan menyukai orang lain
• Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
• Menyenangkan dan dicemburui orang lain
• Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
• Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membo-sankan
• Menyukai hal-hal yang spontan
KELEMAHAN:
• Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
• Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
• Susah untuk diam
• Mudah terpengaruh atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain
• Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
• Mempunyai ingatan yang lemah
• Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
• Mudah berubah-ubah
• Susah datang tepat waktu jam kantor
• Prioritas kegiatan kacau
• Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
• Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalah-nya
• Egoistis
• Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
MELANKOLIS yang Sempurna.
KEKUATAN:
• Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
• Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
• Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
• Sensitif
• Mau mengorbankan diri dan idealis
• Standar tinggi dan perfeksionis
• Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
• Hemat
• Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
• Kalau sudah mulai, dituntaskan.
• Berteman dengan hati-hati.
• Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
• Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
• Sangat memperhatikan orang lain
KELEMAHAN:
• Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
• Mengingat yang negatif & pendendam
• Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
• Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan
• Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah
• Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan
• Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan
• Hidup berdasarkan definisi
• Sulit bersosialisasi
• Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya
• Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
• Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)
KOLERIS yang kuat.
KEKUATAN:
• Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
• Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
• Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target
• Bebas dan mandiri
• Berani menghadapi tantangan dan masalah
• “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini”.
• Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
• Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
• Membuat dan menentukan tujuan
• Terdorong oleh tantangan dan tantangan
• Tidak begitu perlu teman
• Mau memimpin dan mengorganisasi
• Biasanya benar dan punya visi ke depan
• Unggul dalam keadaan darurat
KELEMAHAN:
• Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
• Senang memerintah
• Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai
• Menyukai kontroversi dan pertengkaran
• Terlalu kaku dan kuat/ keras
• Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
• Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci
• Sering membuat keputusan tergesa-gesa
• Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
• Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
• Workaholics (kerja adalah “tuhan”-nya)
• Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf
• Mungkin selalu benar tetapi tidak popular
PLEGMATIS yang Damai.
KEKUATAN:
• Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
• Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
• Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
• Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
• Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
• Penengah masalah yg baik
• Cenderung berusaha menemukan cara termudah
• Baik di bawah tekanan
• Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
• Rasa humor yg tajam
• Senang melihat dan mengawasi
• Berbelaskasihan dan peduli
• Mudah diajak rukun dan damai
KELEMAHAN:
• Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
• Takut dan khawatir
• Menghindari konflik dan tanggung jawab
• Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
• Terlalu pemalu dan pendiam
• Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
• Kurang berorientasi pada tujuan
• Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
• Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
• Tidak senang didesak-desak
• Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

2. Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu

Makna pertumbuhan sering diartikan sama dengan perkembangan, sehing-ga kedua istilah itu penggunaannya sering kali dipertukarkan untuk makna yang sama. Dalam makalah ini istilah pertumbuhan diberi makna dan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang secara kuantutatif semakin besar dan atau panjang, sedangkan istilah perkembangan diberi makna dan digu-nakan untuk menyatakan terjadinya perubahan-perubahan aspek psikologis dan aspek social.
Setiap individu pada hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkambangan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, social, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap.
Berikut ini diuraikan pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek tersebut.

a. Pertumbuhan fisik

Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hing-ga ia dewasa.
• Pertumbuhan sebelum lahir
Masa sebalum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu me-rupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan saraf yang membentuk system yang lengkap.
• Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik ma-nusia berlangsung sampai masa dewasa. Pertumbuhan fisik baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak sehari-hari. Secara langsung pertumbuhan fisik seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkemban-gan fungsi fisik akan mempengaruhi bagaimana anak ini me-mandang dirinya sendiri dan bagaimana ia memandang orang lain.



b. Intelek
Intelek atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Karena pikiran pada dasarnya menunjukkan fungsi otak. Maka, kemampuan intelektual yang lazim disebut dengan istilah lain “ke-mampuan berpikir”.

c. Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Dalam hidupnya atau dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, banyak hal yang dibutuhkannya. Kebutuhan setiap orang dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu Kebu-tuhan Jasmani dan Kebutuhan Rohani.

d. Sosial
Dalam proses pertumbuhan setiap orang tidak dapat berdiri sendiri. Se-tiap manusia memerlukan lungkunga dan senantiasa akan memerlukan manusia lainnya. Dalam perkembangannya, setiap orang akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi.

e. Bahasa
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Setiap orang senantiasa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, dengan orang-orang diseki-tarnya. Sejak bayi, manusia telah berkomunikasi dengan dunia lain. Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tan-da, gerak, dan suara untuk menyampaukan isi pikiran kepada orang lain.

f. Bakat Khusus
Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki pleh seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan, kemampuan itu dapat berkembang.

g. Sikap, nilai, dan moral
Menurut Bloom, tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan men-jadi 3 sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), penguasaan psikomotorik.


Perkembangan-perkembangan dasar atau esensi dari lingkungan belajar mengajar yang senat adalah suasana belajar yang secara nyata dapat menumbuh-kan munculnya perasaan yang terdapat antara siswa dan guru di dalam kelas. Pe-rasaan-perasaan tersebut tergantung pada peran guru dalam menciptakan situasi yang kondusif. Peran tersebut berangkat dari pemikiran bahwa esensi situasi bela-jar yang kondusif dan sehat adalah situasi belajar yang dapat menumbuhkan “pe-rasaan dekat” antara guru dan anak, merasa saling membutuhkan, saling meng-hargai, dsb. Dengan perasaan saling memperhatikan yang terdapat antara guru dan anak dalam proses belajar mengajar, sikap guru yang merupakan cerminan perasaan yang melandasi transaksi belajar mengajar diantaranya adalah :

1. Penerimaan (acceptance)
Sikap ini meliputi pengenalan dan pengakuan terhadap berbagai kemampuan dan keterbatasan mental, emosional, fisik, dan social yang dimiliki anak. Sikap acceptance tersebut harus dilandasi pe-mahaman bahwa guru mempunyai kepercayaan terhadap diri sen-diri berupa kemampuan mengajar dan kemampuan dalam mengha-dapi anak.

2. Rasa Aman
Rasa aman dan disayangi merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu memperoleh pemenuhan sehingga dalam proses belajar mengajar diperlukan pula adanya rasa disayangi dan diterima oleh kelompok dan guru. Jika anak dalam kegiatan pembelajaran merasa aman dan diterima sebagaimana adanya, akan membuat anak tersebut merasa aman dan kerasan selama proses pengajaran ber-langsungdan termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan sungguh-sungguh.

3. Pemahaman akan adanya Individual (differences)
Pemahaman pendidik bahwa tidak ada manusia yang sama serta perilaku mahasiswa selalu bersifat “unik” menjadikan diperlukan kesabaran dalam menghadapi berbagai perilaku anak. Guru hen-daknya dapat bersikap bijak dan dapat menjaga keseimbangan an-tara sikap otoritatif dan sikap ngemong.




a. Menggunakan cara-cara yang demokratis
Penggunaan cara yang demokratis dalam proses pembelaja-ran termanifestasi dalam perilaku saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, adanya perencanaan atau kontrak pembelajaran yang kooperatif atau berdasar pada kesepakatan serta pedelegasian wewenang dan tanggung jawab. Cara tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Dalam proses belajar mengajar, anak hendaknya juga memperhitungkan suara agar suasana kelas tidak men-jadi kaku.

b. Sikap Bersahabat
Dengan dilandasi pemahaman terhadap berbagai kemam-puan dan kekurangan yang ada pada anak, sikap percaya serta kesabaran dari guru sebagai pengajar, akan memun-culkan rasa “saling”, dimana guru sebagai pendidik selalu berusaha untuk mengkomunikasikan apa yang diharapkan dari anak didik, memberikan arahan, bantuan, dan bimbin-gan agar harapan tersebut tercapai secara efektif dan efisien, termasuk memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan secara terbuka permasalahannya sehingga akan tercapai kepuasan antara dua belah pihak. Oleh karena itu, siswa akan sekuat tenaga memenuhi harapan tersebut.


4. Memahami Perbedaan Individual

Tugas utama guru adalah mengajar, dan dalam proses pembelajaran yang dihadapi adalah anak manusia yang bersifat “unik”. Dalam hal ini, pengertian unik mengandung berbagai pengertian. Pengertian pertama adalah unik dapat dimaknai bahwa tidak ada manusia yang sama, dalam pengertian bahwa manusia yang satu pasti berbeda dengan yang lain. Pengertian unik yang kedua adalah bahwa kondisi manusia itu sendiri bersifat tidak menetap. Dari waktu ke waktu, situasi dan kon-disi lingkungan serta faktor intern akan mempengaruhi perilaku, sikap, kondisi emosi, dan cara seseorang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya, termasuk dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Pengertian yang ketiga perlu pula dipahami bahwa setiap tahapan perkem-bangan manusia mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan perkembangan yang lain sehingga untuk dapat memberikan stimulasi dan mengarahkan pembentukan perilaku anak perlu pula diketahui ciri khusus dari setiap tahapan perkembangan tersebut, agar dapat menghadapi dan melayani anak secara tepat. Pengertian keempat yang perlu pula mendapat perhatian adalah adanya kenyatan bahwa dalam batas-batas tertentu manusia mempunyai kemampuan untuk memanipulasi perilaku sehingga pemahaman tehadap perilaku memang memerlukan pendekatan yang teliti dan memerlukan waktu yang panjang.
Terlepas hal-hal diatas, secara umum, perbedaan individual yang perlu di-pertimbangkan dalam pelaksanaan pengajaran di kelas adalah faktor-faktor yang menyangkut kesiapan anak untuk menerima pengajaran karena perbedaan tersebut akan menentukan system pendidikan secara keseluruhan. Idealnya, perbedaan-perbedaan tersebut harus diselesaikan dengan pendekatan individualnya juga, te-tapi tetap disadari bahwa pendidikan tidak semata-mata bertujuan untuk mengem-bangkan individu sebagai individu, tetapi juga dalam kaitannya dengan pola kehi-dupan masyarakat yang bervariasi. Secara rinci, kondisi awal yang berupa kesiapan anak dalam menghadapi pelajaran, atau kondisi-kondisi yang perlu dipertim-bangkan dalam kegiatan pengajaran meliputi :

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Perkembangan merupakan proses perubahan yang dialami anak un-tuk mencapai kedewasaan yang diharapkan. Perkembangan pada anak akan melewati tahapan-tahapan tertentu dan setiap tahapan selalu memiliki ciri khusus dan berbeda dengan tahapan lainnya sehingga pemahaman ter-hadap tahapan perkembangan yang dialami siswa dengan berbagai sifat-sifatnya yang unik tersebut akan memberikan bekal kepada guru sebagai pengajar untuk menyesuaikan cara mengajar, pemilihan materi, pemilihan sumber belajar, ataupun pemilihan metode pembelajaran.

2. Pribadi Siswa

Kepribadian sering diartikan sebagai keseluruhan sifat-sifat seseo-rang yang memberikan corak yang khas pada individu saat bertingkah laku dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya sehingga pemahaman terhadap pribadi anak mencakup banyak factor fisik dan psikis serta berbagai aspek (potensi) yang ada pada siswa. Oleh karena itu, pengertian kepribadian dibatasi pada aspek yang diduga banyak ber-pengaruh terhadap kesiapan dan prediksi keberhasilan anak dalam mengi-kuti kegiatan pengajaran yang terdiri atas :

a. Fungsi Kognitif
Fungsi Kognitif mencakup :
• Tingkat kecerdasan (intelegensi)
• Daya kreativitas
• Bakat khusus
• Organisasi kognitif yang menyangkut teknik penyimpanan dan pe-manggilan memori dalam struktur pemikiran
• Kemampuan berbahasa
• Daya fantasi
• Gaya belajar, dan berbagai teknik dan kebiasaan.



b. Fungsi Konatif Dinamik
Fungsi Konatif Dinamik adalah fungsi psikis yang dimiliki anak yang secara khusus berkisar pada penentuan tujuan perilaku dan pemenuhan kebutuhan baik yang disadari ataupun tidak. Hal yang termasuk dalam klasifikasi fungsi konatif dinamik adalah : karakter, hasrat berkehen-dak ; hal ini menyangkut sifat dan kemampuan dasar untuk dapat mengendalikan diri dalam mencapai tujuan, motivasi belajar (khusus-nya motivasi intern) yang akan menentukan semangat untuk mencapai tujuan belajar dengan cara objektif, konsentrasi, perhatian, dsb.

c. Fungsi Afeksi
Fungsi Afeksi adalah psikis yang menyangkut penilaian anak terhadap benda, gejala atau peristiwa yang dihadapi, yang menyangkut perasaan senang yang lebih spesifik terinci menjadi rasa puas, gembira,setuju, dan berbagai perasaan yang mencerminkan kepuasan serta rasa tidak senang yang dapat berupa perasaan takut, cemas, gelisah, iri hati, ma-rah, dendam, dan berbagai perasaan yang mengarah pada ketidakpua-san sehingga perlu ditumbuhkan rasa senang pada pelajaran yang dibe-rikan sehingga akan muncul sikap positif dan muncul minat untuk terus belajar.


d. Fungsi Sensorik-Motorik
Fungsi Sensorik-Motorik adalah fungsi yang menyangkut kemampuan siswa dalam bidang psikomotorik atau keterampilan khusus. Aspek psikomotorik yang merupakan kemampuan awal anak yang ikut ber-pengaruh terhadap hasil proses pengajaran meliputi: kecepatan mem-baca, menulis, berbahasa, artikulasi kata-kata, keterampilan menggu-nakan alat seperti menggunting, menggunakan penggaris. Terdapat kemampuan yang makin tinggi makin mendukung hasil belajar tetapi ada pula yang yang tidak, seperti kemampuan berbahasa/berbicara ser-ing menyebabkan anak (kecil) senang berbicara sendiri dengan teman-nya ketika pelajaran berlangsung.

e. Fungsi Pribadi Lain
Fungsi yang menyangkut berbagai keadaan awal siswa yang sulit digo-longkan dalam fingsi pribadi, yaitu: kondisi biologis yang menyangkut kesehatan, penglihatan, daya tahan, dan sebagainya. Selain itu, kondisi mental yang berupa ketenangan batin, baik akibat dari suasana keluarga maupun teman sebaya, kekaburan nilai benar salah, penanaman disiplin dan moral yang kurang tepat ataupun berbagai kondisi lingkungan di luar sekolah akan mempengaruhi kesiapan anak dalam menghadapi proses pengajaran di kelas, keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan sebelumnya dan sebagainya. Berbagai kondisi awal tersebut dimiliki oleh anak denagn kualitas dan kuantitas yang sangat bervariasi sehingga untuk memperoleh hasil maksimal juga diperlukan variasi dalam pendekatan.


5. Perlunya Pemahaman Perkembangan Peserta Didik

Dari berbagai ulasan tersebut, nampak bahwa mempelajari berbagai aspek psikologi anak sangat membantu keberhasilan proses pengajaran karena dengan memahami berbagai faktor yang merupakan kondisi awal anak akan menjadi alat Bantu yang penting bagi penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pen-didikan yang telah ditetapkan. Berbagai macam peserta didik diantaranya adalah perencanaan pendidikan, pemilihan, alat dan sumber belajar, pemilihan materi, interaksi belajar mengajar, pemberian motivasi, layanan bimbingan penyuluhan dan berbagai faktor yang lain.
Dalam situasi pengajaran atau dalam proses belajar mengajar, guru adalah figure sentral yang kuat dan berwibawa, tetapi juga harus selalu dapat menunjuk-kan sikap bersahabat dengan anak. Guru adalah pengambil keputusan (decision maker) yang harus dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam berbagai situasi dan untuk kepentingan pendidikan, pemahaman tentang kemampuan awal, cara belajar anak, serta kepribadian anak secara menyeluruh juga akan dapat dipa-kai untuk landasan dalam pengambilan keputusan dalam proses belajar mengajar yang menyangkut pemberian materi perbaikan ataupun pengayaan, kenaikan kelas, penempatan anak sesuai dengan kemampuannya dan sebagainya.
Dengan mencermati begitu sentralnya masalah pemahaman peserta didik dalam keseluruhan proses pendidikan tersebut, nampaknya tidak ada pilihan lain bagi pengajar untuk berusaha semaksimal mungkin memahami berbagai perbedaan yang ada pada anak didik untuk kemudian menghubungkan berbagai perbedaan tersebut dengan pelayanan yang harus diberikan, tidak saja pelayanan secara individual yang berupa pengajaran remedial, layanan bimbingan penyuluhan ataupun penanganan untuk anak-anak bermasalah, tetapi juga pelayanan secara klasikal, misalnya dalam pemilihan alat dan sumber belajar, pemberian ilustrasi dalam menjelaskan materi/bahasan tertentu.
Tugas tersebut bukanlah merupakan pekerjaan yang sederhana, tetapi memerlukan ketelatenan dan dedikasi yang tinggi untuk dapat selalu memahami anak, menyesuaikan penyesuaian tersebut dalam cara mengajar dan dalam pengambilan keputusan. Cara yang paling sederhana dan tidak menyalahi aturan main sebagai pengajar adalah selalu memperlakukan anak sebagai anggota kelompok yang selalu diperlakukan dan dituntut sama, meskipun hal tersebut bukanlah hal yang bijak. Faktor lapangan juga masih sangat banyak ditemukan pengajar yang berlaku seperti ilustrasi tersebut, hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya adalah :

1. Kurangnya pemahaman guru tentang pentingnya memahami perkembangan dan perbedaan individual.
2. Kurangnya kesadaran dan dedikasi guru, untuk mau direpotkan dengan berbagai perbedaan yang ada pada anak.
3. Guru juga merupakan pribadi yang unik, yang juga perlu dipahami mengenai berbagai perbedaan yang ada pada mereka.

Adapun hambatan yang dialami di lapangan dan bagaimanapun sulitnya memahami setiap individu siswanya merupakan tugas guru sebagai tenaga pengajar untuk terus melakukan usaha, agar proses pengajaran dapat membuahkan hasil yang maksimal.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Individu berarti tidak dapat dibagi, tidak dapat dipisahkan, keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karna ciri-cirinya yang khusus tersebut. Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan yang berbeda satu dengan yang lain. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang bersifat sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Perkembangan pada anak akan melewati tahapan-tahapan tertentu dan se-tiap tahapan selalu memiliki ciri khusus dan berbeda dengan tahapan lainnya se-hingga pemahaman terhadap tahapan perkembangan yang dialami siswa dengan berbagai sifat-sifatnya yang unik tersebut akan memberikan bekal kepada guru sebagai pengajar untuk menyesuaikan cara mengajar, pemilihan materi, pemilihan sumber belajar, ataupun pemilihan metode pembelajaran.

3.2. Saran
Berdasarkan lingkup masalah diatas, perlu adanya beberapa saran yang harus dilakukan oleh kita sebagai tenaga pengajar dan tenaga pendidik sebagai berikut :
1. Sebagai guru, kita harus dapat memahami perkembangan peserta didik kita.
2. Kita harus memahami karakteristik dan perbedaan individual.
3. Kita harus menyadari akan dedikasi kita sebagai guru.
Semoga kelak ketika menjadi guru, kita dapat menjalankan tugas dan fungsi keguruan yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, mohammad & Asrori, mohammad.2004.Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik.Jakarta : Bumi Aksara

Hartina, siti.2008.Perkembangan Peserta Didik.Tegal : Refika Aditama

http://www.google.com, Rabu, 06 Oktober 2010, pukul 14:00

Poerwanti, endang & Widodo, nur.2005.Perkembangan Peserta Didik.Malang : Universitas Muhammadiyah Malang

Sumantri, mulyani & Syaodih, nana.2007.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta : Universitas Terbuka

Sunarto & Hartono, agung.1995.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta : Rineka Cipta

Suryani, erlis.2009.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta : Kusuma Negara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar